Berita TerkiniHeadlineKALTIM

Kaltim Dikepung Asap Karhutla: Kasus ISPA Tembus 320 Ribu, Bayi dan Anak-Anak Berada dalam Ancaman Serius

ADARA TIMUR – Krisis kabut asap yang dipicu oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) kini telah bergeser dari masalah lingkungan menjadi ancaman kesehatan publik yang sangat serius. Dinas Kesehatan Provinsi Kaltim mencatat akumulasi kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dari bulan Januari hingga pertengahan Oktober 2026 telah menembus angka fantastis, yakni berkisar di angka 320.000 kasus. Lonjakan ini mencakup seluruh kelompok usia, termasuk kelompok yang paling rentan: bayi dan anak-anak.

Kabut asap pekat yang menyelimuti sejumlah wilayah di Kaltim dalam beberapa pekan terakhir dinilai menjadi faktor pemicu utama meroketnya grafik gangguan pernapasan ini. Pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk tidak lagi memandang remeh situasi udara saat ini.

Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Andi Muhammad Ishak, memperingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi mereka yang terpaksa harus melakukan aktivitas di luar ruangan. Polusi asap akibat kebakaran lahan mengandung partikel halus berbahaya yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan dan memicu inflamasi akut.

“Jangan menganggap enteng asap ini. Ada ancaman bahaya nyata terkait partikel halusnya,” tegas Andi dalam keterangannya, Sabtu (17/10/2026).

Efek buruk dari penurunan kualitas udara ini dirasakan langsung oleh kelompok anak-anak. Andi mengungkapkan, kabut asap yang pekat terbukti memperpanjang masa sakit anak. Ia mencontohkan adanya laporan mengenai anak bawah tiga tahun (batita) di Kaltim yang harus menderita batuk dan pilek secara terus-menerus selama satu bulan penuh akibat paparan udara buruk yang tak kunjung membaik.

Meski tren kesembuhan pasien sejauh ini dinilai cukup baik dan kasus-kasus yang ada masih dapat ditangani, Dinkes Kaltim menegaskan bahwa langkah pencegahan harus menjadi prioritas utama. Di sisi lain, jaminan ketersediaan fasilitas medis terus dipantau. “Kami memastikan sarana, prasarana, dan stok obat-obatan di tingkat puskesmas hingga rumah sakit rujukan dalam kondisi aman dan tidak kekurangan,” tambahnya.

Situasi di tingkat kabupaten/kota juga menunjukkan alarm waspada. Dinas Kesehatan Kota Balikpapan melaporkan data yang tidak kalah mengkhawatirkan. Hanya dalam kurun waktu dua pekan pertama di bulan Oktober 2026, jumlah bayi dan anak balita di Balikpapan yang terdiagnosis menderita ISPA telah mencapai 1.900 kasus.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, Niken, mengonfirmasi adanya lompatan tren penyakit ini. ”Jadi memang ada peningkatan kasus ISPA yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya pada tahun 2026 ini,” urai Niken.

Selain itu, kerentanan kelompok umur bayi terhadap asap karhutla ini juga diamini oleh para pakar kesehatan. Dokter sekaligus Sekretaris Jenderal Himpunan Fasyankes Dokter Indonesia (HIFDI), dr. Putro S. Muhammad, menjelaskan secara ilmiah mengapa kepungan asap berakibat fatal bagi organ pernapasan bayi.

“Bayi menjadi salah satu kelompok yang paling rentan terhadap paparan asap karhutla karena kondisi anatomi saluran pernapasan bayi yang masih sangat sempit. Selain itu, frekuensi napas mereka jauh lebih cepat dibandingkan orang dewasa, ditambah lagi dengan sistem kekebalan tubuh mereka yang belum matang sempurna,” jelas dr. Putro pada Rabu (14/10/2026).

Untuk meminimalisasi risiko fatal, dr. Putro membagikan panduan bagi para orang tua untuk mendeteksi tanda bahaya gangguan pernapasan akut pada anak berdasarkan frekuensi tarikan napas per menit:

  1. Bayi berusia di bawah 2 bulan: Waspadai jika frekuensi napas mencapai 60 kali per menit atau lebih.
  2. Bayi usia 2 hingga 12 bulan: Batas aman terpantau jika di bawah 50 kali per menit. Lebih dari itu adalah tanda bahaya.
  3. Anak usia 1 hingga 5 tahun: Segera ambil tindakan jika napas anak menyentuh 40 kali per menit atau lebih.

“Jika anak atau bayi Anda mengalami tanda-tanda hitungan napas cepat seperti itu, jangan ditunda lagi. Segera bawa ke UGD atau layanan kesehatan terdekat untuk mendapatkan bantuan oksigen dan penanganan medis darurat,” imbaunya.

Selain menghitung frekuensi napas, dr. Putro mengingatkan orang tua untuk jeli melihat tanda fisik lainnya. Gejala kritis yang wajib diwaspadai meliputi adanya tarikan dinding dada ke dalam secara tidak wajar saat anak menarik napas, cuping hidung yang kembang-kempis secara intens, serta munculnya bunyi napas yang asing seperti mengorok atau mengi. Tanda paling fatal yang menunjukkan anak mengalami hipoksia (kekurangan oksigen) adalah terjadinya perubahan warna menjadi kebiruan pada area bibir atau kuku-kuku jari. Jika kondisi ini terjadi, pertolongan medis instan mutlak diperlukan. (tian)

 

Selengkapnya

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button