Berita TerkiniGerbang Nusantara

Menumbuhkan Akar Pengetahuan: Sekda PPU Tohar Dorong Sinergi Keluarga dan Sekolah Perkuat Budaya Literasi

ADARA TIMUR – Di tengah arus digitalisasi dan gempuran informasi instan yang kian masif, Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, terus memantapkan langkah strategis dalam membangun fondasi sumber daya manusia yang berkualitas. Salah satu fokus utama yang kini digalakkan adalah penguatan budaya literasi, yang dimulai dari lingkup terkecil: keluarga dan dunia pendidikan.

Bupati Penajam Paser Utara, Mudyat Noor, mengatakan, membudayakan membaca sejak usia dini bukan sekadar formalitas akademik, melainkan sebuah kebutuhan krusial untuk melahirkan generasi muda yang tidak hanya cakap mengakses informasi, tetapi juga memiliki kedalaman pemahaman pengetahuan.

Ditambahkan, mewujudkan masyarakat yang literat bukanlah tugas yang bisa dibebankan kepada sebelah pihak saja. Hal ini merupakan tanggung jawab kolektif yang menuntut keterlibatan aktif dan peran sentral dari para orang tua di rumah serta para guru di sekolah.

“Membaca itu hal yang sangat penting untuk kita agar memperkaya keilmuan dan pengetahuan kita lebih luas. Sebenarnya, masalahnya adalah menumbuhkan budaya literasi yang menjadi tantangan bagi kita. Beban orang tua, termasuk kita juga, beban para guru,” katanya, Senin (19/10/2026)

Ia menggarisbawahi bahwa sekadar menyediakan fasilitas berupa tumpukan buku atau perpustakaan belumlah cukup untuk merangsang minat baca anak. Hal yang paling esensial adalah menciptakan ekosistem dan lingkungan sosial yang kondusif, di mana membaca bertransformasi menjadi sebuah kebiasaan hidup yang menyenangkan.

Dia menjelaskan, pembentukan karakter literasi ini terbagi menjadi dua pilar utama yakni , pertama peran keluarga atau orangtua diimbau untuk menjadi teladan nyata di rumah. Dengan membiasakan diri membaca di hadapan anak-anak, orang tua dapat menularkan ketertarikan secara alami sehingga anak menjadikan aktivitas membaca sebagai bagian dari keseharian mereka. Yang kedua, peran sekolah yaitu para pendidik di sekolah memiliki tanggung jawab untuk mengarahkan peserta didik agar menjadikan buku sebagai sumber utama pencarian ilmu, yang pada gilirannya akan memperluas cakrawala berpikir serta mempertajam pemahaman siswa terhadap materi pelajaran.

“Kalau budaya membaca denganliterasi yang mumpuni maka kualitas sumber daya manusia (SDM) kita kedepan makin baik dan meningkat,” tambah Mudyat

Tidak hanya itu, lanjut Mudyat, di era kemajuan teknologi informasi seperti sekarang, batasan ruang dan waktu untuk mencari informasi seolah runtuh. Hanya dengan sentuhan jari dan koneksi internet, segala jenis pengetahuan dapat diakses seketika. Kendati demikian, kemudahan ini memunculkan tantangan tersendiri bagi kualitas daya tangkap masyarakat.

 “Sekarang kita ingin apa, kita tidak perlu mencari buku atau membaca apa pun yang tersedia. Tapi orang yang membaca dan melihat hal yang sama hanya dengan membuka mata browsing mungkin berbeda,” ungkapnya.

Ia menilai, proses kognitif saat seseorang membaca buku secara utuh melibatkan perenungan, pemahaman konteks, serta daya analisis yang lebih matang dibandingkan sekadar melakukan pencarian cepat (browsing).

“Oleh karena itu, kehadiran teknologi digital harus disikapi secara bijak dan harus berjalan beriringan dengan penguatan tradisi membaca teks secara mendalam,” tambahnya. (Adv)

 

Selengkapnya

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button