Grafik Stunting PPU Melandai, Pemkab PPU Perkuat Intervensi Pangan di Dua Wilayah Prioritas
ADARA TIMUR – Penanganan masalah gizi buruk kronis (stunting) di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mencatatkan progres yang kian membaik sepanjang tahun 2026. Kurva kasus secara keseluruhan terus menunjukkan tren penurunan yang positif berkat kerja keras lintas sektor. Kendati demikian, Pemerintah Kabupaten PPU menegaskan tidak akan melonggarkan pengawasan dan tetap memberikan perhatian khusus terhadap dua wilayah tingkat desa atau kelurahan yang dinilai masih membutuhkan intervensi gizi ekstra.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten PPU, Mulyono mengatakan, efektivitas program penanganan gizi tahun ini memenunjukkan hasil yang jauh lebih menggembirakan jika dibandingkan dengan pencapaian pada periode-periode sebelumnya.
“Secara umum grafik penanganan kita memang menunjukkan penurunan yang menggembirakan. Walau begitu, radar pengawasan kita tidak boleh kendur karena masih ada dua wilayah desa atau kelurahan yang memerlukan penanganan khusus,” tututrnya, Frabu (21/10/2026).
Dari dua kawasan yang masuk dalam catatan merah tersebut, Mulyono mengidentifikasi Desa Sepan sebagai salah satu lokasi prioritas yang bakal diguyur program intervensi intensif. Adapun untuk satu wilayah kelurahan atau desa lainnya, pihak dinas masih merapikan proses verifikasi serta pemetaan data faktual di lapangan.
Pemerintah daerah berkomitmen untuk tidak sekadar berpuas diri dengan melandainya grafik secara akumulatif. Evaluasi berkala akan terus dilakukan agar perumusan langkah intervensi benar-benar tepat sasaran dan berpatokan pada kebutuhan riil masyarakat setempat.
“Wilayah-wilayah yang masih mengantongi catatan kasus ini akan terus kita dorong dan dampingi secara maksimal. Kita cari formulasinya agar angka stunting di sana bisa dikikis habis,” tegas Mulyono membakar semangat tim penanganan di lapangan.
Dalam struktur penanganan stunting terpadu, Dinas Ketahanan Pangan PPU mengemban peran strategis melalui program intervensi pangan bergizi serta kampanye penganekaragaman konsumsi pangan lokal. Langkah intervensi kedaulatan pangan ini dirancang agar berjalan selaras dengan program pemeriksaan medis berkala serta edukasi pengasuhan anak yang dikawal oleh kader Posyandu dan pendamping keluarga.
Demi memperluas daya jangkau penerima manfaat serta meningkatkan kualitas pasokan gizi bagi keluarga berisiko stunting, Mulyono berharap adanya dukungan penguatan anggaran pada tahun fiscal mendatang.
“Kami tentu berharap kapasitas fiskal daerah pada tahun anggaran depan bisa jauh lebih longgar. Dengan begitu, porsi alokasi untuk program intervensi pangan di Dinas Ketahanan Pangan dapat diperbesar untuk memperluas jangkauan perlindungan gizi masyarakat,” pungkasnya.
Penanganan kasus stunting di Kabupaten Penajam Paser Utara kini bertumpu pada kolaborasi multisektor yang melibatkan Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Kesehatan, instansi Keluarga Berencana, jajaran Posyandu, hingga perangkat desa dan kelurahan. Kerjasama yang solid ini diharapkan mampu mewujudkan sistem pencegahan stunting yang tangguh dan berkelanjutan demi lahirnya generasi emas PPU yang sehat dan berdaya saing. (Adv)



