PPU Targetkan Mandiri Benih Ikan Air Tawar, BBI Nenang Bersiap Naik Status Jadi UPT

ADARA TIMUR – Ketergantungan para pembudidaya ikan di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) terhadap pasokan benih dari luar daerah tampaknya akan segera berakhir. Dinas Perikanan Kabupaten PPU kini tengah mengambil langkah strategis dengan mendorong peningkatan status Balai Benih Ikan (BBI) Nenang, yang berlokasi di Kecamatan Penajam, untuk bertransformasi menjadi Unit Pelaksana Teknis (UPT).
Langkah ini diambil menyusul melonjaknya tren budidaya ikan air tawar di wilayah PPU, yang memicu lonjakan permintaan bibit secara signifikan. Selama ini, keterbatasan kapasitas produksi lokal memaksa para peternak ikan membawa masuk bibit dari luar daerah, sebuah kondisi yang dinilai tidak efisien karena menambah biaya logistik dan risiko kematian bibit di perjalanan.
Kepala Dinas Perikanan PPU, Andi Trasodiharto, menegaskan bahwa reposisi BBI Nenang sudah menjadi kebutuhan yang mendesak. Selama ini, fasilitas tersebut hanya berfungsi sebagai kepanjangan tangan dinas dengan ruang gerak operasional yang terbatas. Dengan naik status menjadi UPT, BBI Nenang akan memiliki kemandirian tata kelola untuk memproduksi bibit unggul secara massal dan tersistem.
“BBI di Nenang ini merupakan perpanjangan tangan dinas. Harapan kami bisa segera dijadikan UPT agar masyarakat tidak pusing lagi mencari bibit ikan air tawar yang unggul,” ujar Andi Trasodiharto Senin (5/10/2026).
Potensi pasar ikan air tawar di PPU sebenarnya sangat menjanjikan. Komoditas seperti ikan nila dan lele menjadi varietas yang paling diminati oleh masyarakat lokal, baik untuk konsumsi rumah tangga maupun kebutuhan industri kuliner yang terus tumbuh. Kendati demikian, pasokan yang belum mandiri kerap menjadi batu sandungan bagi optimalisasi keuntungan para pembudidaya.
Andi menjelaskan, tujuan utama dari peningkatan status UPT ini adalah menghadirkan intervensi harga yang berpihak pada peternak. Dinas Perikanan ingin memastikan pasokan bibit selalu tersedia di dalam daerah dengan harga yang murah dan terjangkau, tanpa mengorbankan kualitas genetik ikan itu sendiri.
“Potensi produksi ikan air tawar sangat diminati masyarakat. Jangan sampai potensi kita besar, tetapi ikannya masih didatangkan dari luar. Ini yang kita antisipasi. Kami ingin memproduksi sendiri dengan harga yang murah dan terjangkau bagi pembudidaya,” lanjutnya secara mendalam.
Selain berfokus pada fungsi pelayanan publik dan pemenuhan kebutuhan masyarakat, transformasi BBI Nenang menjadi UPT juga membawa misi ekonomi bagi pemerintah daerah. Melalui manajemen pengelolaan yang lebih profesional dan komersial yang terukur, balai benih ini diproyeksikan mampu menjadi salah satu mesin pencetak Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang baru bagi Kabupaten PPU.
Dengan meningkatnya jumlah pembudidaya ikan dari tahun ke tahun, perputaran ekonomi di sektor pembenihan ini diprediksi akan sangat stabil. Melalui penguatan kelembagaan menjadi UPT, BBI Nenang tidak hanya akan menjadi solusi atas masalah kelangkaan bibit, melainkan juga menjadi pilar penting dalam memperkuat ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi Kabupaten PPU di masa depan. (ADV)



