Hujan mulai Turun di Wilayah PPU, Namun BPBD Tetap Imbau Waspada Karhutla dan Minta Warga Hindari Pembakaran
ADARA TIMUR – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Kondisi lahan yang semakin kering akibat kemarau berkepanjangan memperbesar risiko kebakaran meluas, sehingga masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dan menghindari aktivitas pembakaran lahan.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) PPU, total luasan lahan yang terdampak karhutla sejak Januari hingga Oktober 2026 mencapai 1.277,27 hektare. Angka tersebut menunjukkan bahwa pencegahan dan penanganan kebakaran masih membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, termasuk masyarakat.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten PPU, Nurlaila, mengatakan upaya penanganan karhutla selama ini dilakukan melalui kerja sama lintas sektor. Pemerintah daerah berkoordinasi dengan instansi vertikal, TNI, Polri, serta berbagai unsur terkait untuk melakukan penanganan sesuai kondisi dan lokasi kebakaran.
Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam menghadapi kejadian karhutla yang tersebar di sejumlah wilayah PPU. Koordinasi dilakukan agar upaya penanganan di lapangan dapat berjalan secara terpadu, sekaligus memperkuat langkah pencegahan sebelum kebakaran semakin meluas.

“Di wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara, alhamdulillah sinergi dan kerja kolaborasi berjalan dengan baik. Kami para stakeholder bergerak bersama,” ujar Nurlaila
Dari empat kecamatan di PPU, Kecamatan Penajam mencatat frekuensi kejadian kebakaran tertinggi, yakni sebanyak 249 kali dengan luas lahan terbakar mencapai 570,48 hektare.
Sementara itu, Kecamatan Sepaku mencatat 57 kejadian karhutla dengan luasan 140,24 hektare. Di Kecamatan Waru, terdapat 25 kejadian dengan luas lahan terdampak mencapai 475,04 hektare. Adapun Kecamatan Babulu mencatat 68 kejadian dengan total luasan lahan terbakar sebesar 91,51 hektare.
Data tersebut memperlihatkan bahwa dampak karhutla tidak hanya ditentukan oleh jumlah kejadian, tetapi juga luas area yang terdampak. Karena itu, langkah pencegahan dinilai sama pentingnya dengan upaya pemadaman ketika kebakaran telah terjadi.
Nurlaila menekankan, salah satu upaya yang perlu menjadi perhatian masyarakat adalah mengubah kebiasaan membersihkan lahan menggunakan api. Cara tersebut kerap dipilih untuk membuka lahan baru atau menyiapkan area pertanian, tetapi berisiko memicu kebakaran yang sulit dikendalikan saat kondisi lingkungan kering.
Ia mengingatkan bahwa api dapat dengan cepat merambat ke area di sekitarnya, terutama ketika vegetasi dan permukaan tanah kehilangan kelembapan. Kebakaran yang awalnya berasal dari lahan kecil pun berpotensi meluas dan membahayakan lingkungan serta aktivitas masyarakat.
Menurut Nurlaila, menyampaikan imbauan kepada masyarakat secara berulang merupakan langkah penting untuk membangun kesadaran bersama. Pemerintah daerah bersama unsur TNI dan Polri terus mendorong upaya pencegahan melalui jajaran kewilayahan, termasuk kepala kepolisian sektor (kapolsek), Bintara Pembina Desa (Babinsa), serta Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas).
Melalui koordinasi tersebut, warga diharapkan lebih memahami risiko pembakaran lahan dan mempertimbangkan kondisi lingkungan sebelum melakukan aktivitas yang berpotensi menimbulkan api.
“Masyarakat mohon untuk mengendalikan diri dan secara bijaksana memahami kondisi di sekeliling kita. Jangan membersihkan lahan dengan cara dibakar, apalagi membakar lahan untuk membuka penanaman baru atau penanaman apa pun,” tegasnya.
Selain faktor aktivitas manusia, kondisi cuaca juga menjadi tantangan dalam penanganan kebakaran. Nurlaila menyebut fenomena El Niño turut menjadi hal yang perlu diwaspadai karena kondisi kering dapat memengaruhi ketersediaan air, yang merupakan salah satu kebutuhan utama dalam proses pemadaman.
Berkurangnya sumber air dapat menyulitkan petugas ketika harus menangani kebakaran di lapangan, terlebih apabila titik api berada di lokasi yang sulit dijangkau. Kondisi tersebut membuat kesiapsiagaan personel dan dukungan berbagai pihak perlu terus diperkuat.
Oleh sebab itu, masyarakat diimbau tidak menunggu hingga kebakaran terjadi untuk meningkatkan kewaspadaan. Menghindari pembakaran terbuka, tidak meninggalkan sumber api tanpa pengawasan, serta segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran merupakan langkah yang dapat membantu menekan risiko karhutla.
“Kita berharap kesadaran masyarakat berjalan seiring dengan koordinasi antarlembaga agar dampak kebakaran dapat diminimalkan. Dengan kondisi kemarau yang meningkatkan kerentanan lahan, pencegahan menjadi tanggung jawab bersama demi melindungi lingkungan, kesehatan, dan keselamatan warg,” katanya.
Meski begitu, hujan mulai turun di sejumlah wilayah di Penajam Paser Utara, bahkan di sejumlah eilayah tersebutnhujan mengguyur deras. Rabu (28/10/2026) dini hari. Hal itu disambut baik oleh sejumlah warga. “Alhamdulillah hujan mulai turun. Semoga tidak da lagi kebakaran hutan sehingga asap tidak ada lagi dan udara sejuk dan bersih kembali,” tutur Alfian, Salah satu warga di Waru. (Adv)



