Berita TerkiniHeadlineNasional
Bernostalgia di HUT Demokrat, Prabowo Buka-bukaan Soal SBY yang Lulus Akmil Lebih Dulu

ADARA TIMUR – Suasana hangat penuh nostalgia mewarnai puncak perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-25 Partai Demokrat yang digelar di Indonesia Arena, Kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta. Di hadapan ribuan kader dan jajaran petinggi partai, Presiden Prabowo Subianto membagikan kisah masa lalunya saat mengenyam pendidikan militer bersama Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Dalam pidatonya, Prabowo secara terbuka mengagumi rekam jejak SBY selama berada di Akademi Militer (Akmil) Magelang. Hubungan erat yang bermula dari lembah Tidar tersebut kini bertransformasi menjadi pilar penting dalam lanskap politik nasional.
Di atas podium, Prabowo mengundang gelak tawa dan tepuk tangan riuh dari para hadirin saat menceritakan dinamika masa mudanya bersama SBY. Ia mengenang bahwa mereka berdua merupakan rekan satu angkatan saat pertama kali masuk ke Akmil pada tahun 1970. Kendati demikian, perjalanan akademis dan kedisiplinan membawa mereka pada garis akhir kelulusan yang berbeda.
“Saya satu angkatan dengan Pak SBY di Akmil. Masuknya satu angkatan, keluarnya angkatan di bawahnya,” ujar Prabowo yang langsung disambut tawa para kader Demokrat.
Berdasarkan catatan sejarah militer, SBY berhasil menyelesaikan pendidikannya tepat waktu pada tahun 1973 dan keluar sebagai lulusan terbaik dengan predikat Adhi Makayasa. Sementara itu, Prabowo Subianto baru menyelesaikan masa pendidikannya satu tahun setelahnya, yakni pada tahun 1974.
Prabowo dengan rendah hati memuji kualitas kepemimpinan SBY yang menurutnya sudah terlihat menonjol sejak masa taruna. “Memang dari awal sudah kelihatan bahwa Pak SBY memang taruna yang terbaik. Tapi Prabowo Subianto taruna yang bisa diperbaiki,” selorohnya berkelakar.
Kehadiran Prabowo dalam acara tersebut tidak hanya sekadar menghadiri undangan seremonial partai. Ia menegaskan rasa hormatnya yang mendalam kepada SBY, mengingat momentum perayaan HUT ke-25 Partai Demokrat ini bertepatan langsung dengan hari ulang tahun ke-77 SBY selaku penggagas utama dan pendiri partai tersebut.
Bagi Prabowo, menghadiri acara tersebut merupakan sebuah kehormatan besar. Hubungan keduanya mencerminkan bagaimana dua tokoh bangsa yang dibesarkan dalam doktrin militer yang kuat dapat terus menjaga komunikasi dan silaturahmi yang kokoh di masa purnatugas.
Lebih lanjut, Kepala Negara merefleksikan kesamaan alur hidup mereka yang memilih jalur politik setelah melepas seragam TNI. Langkah politik ini dipandang sebagai kelanjutan dari sumpah prajurit untuk terus mengabdi kepada negara.
Prabowo menekankan bahwa baik dirinya maupun SBY tumbuh dari rahim pendidikan militer yang sama, di mana orientasi utamanya adalah membela kepentingan rakyat.
“Bapak SBY pernah jadi jenderal, saya juga pernah, tetapi kita, TNI, yang diajarkan, yang dibesarkan, yang dibina sebagai tentara rakyat,” tegas Prabowo.
Pendidikan sebagai tentara rakyat inilah yang membentuk pemahaman filosofis bahwa pengabdian tidak boleh berhenti ketika pensiun dari kedinasan militer. Jalur politik dan mekanisme demokrasi dinilai menjadi wadah yang sah dan strategis untuk merealisasikan mandat serta aspirasi masyarakat luas.
Ia juga memuji konsistensi SBY yang telah memberikan teladan dalam kehidupan berdemokrasi di Indonesia. Setelah menuntaskan karier militernya, SBY membuktikan diri mampu membangun partai politik dari nol, mengikuti kontestasi pemilu, dan memenangkan mandat langsung dari rakyat untuk memimpin Indonesia selama dua periode (2004–2014).
Pertemuan dan pesan-pesan simbolis dalam perayaan ini menegaskan bahwa kerja sama politis antara gerbong pemerintahan saat ini dan Partai Demokrat didasari oleh kedekatan historis yang panjang, rasa saling menghormati, dan kesamaan visi tentang pentingnya menjaga stabilitas nasional melalui jalur demokrasi yang sehat. (Onk)



