Pemkab PPU Percepat Antisipasi Krisis Air Bersih, Optimalkan Embung Lawe-Lawe Hadapi Ancaman Kekeringan

ADARA TIMUR – Ancaman kekeringan ekstrem yang diprediksi melanda dalam beberapa tahun mendatang mendorong Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara mempercepat langkah antisipasi ketersediaan air bersih. Salah satu upaya utama yang disiapkan adalah mengoptimalkan Embung Lawe-Lawe sebagai sumber cadangan air baku bagi masyarakat.
Langkah strategis tersebut dibahas melalui peninjauan langsung lokasi embung di Kelurahan Lawe-Lawe, Senin (2/11/2026). Kegiatan ini melibatkan jajaran Pemkab PPU, Direktur Perusda Air Minum Danum Taka (PDAM), perwakilan Pertamina, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), serta unsur pimpinan DPRD PPU.
Bupati Penajam Paser Utara (PPU), Mudyat Noor, menegaskan ketersediaan air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang menjadi prioritas utama penanganan oleh pemerintah daerah. Ia meminta seluruh instansi terkait untuk bergerak cepat dan tidak setengah-setengah dalam mengeksekusi program mitigasi kekeringan ini.
“Air bersih adalah hak dasar masyarakat yang tidak boleh ditawar. Kita harus mengambil langkah-langkah taktis dan terukur mulai dari sekarang sebelum dampak kekeringan semakin meluas. Optimalisasi Embung Lawe-Lawe ini adalah komitmen nyata pemda bersama seluruh stakeholder untuk mengamankan cadangan air baku jangka panjang bagi warga PPU,” tegas Mudyat.
Dia mengapresiasi sinergi lintas sektor yang telah terjalin, termasuk dukungan dari pihak swasta seperti Pertamina serta komitmen DPRD dalam mengawal pembiayaan program penanganan krisis air bersih tersebut.
“Memang kita saling berkolaborasi untuk mencari solusi dampak kekeringan ini dalam jangka pendek dan jangka panjang. Sehingga hal tersebut bisa kita antisipasi,” tambah Mudyat


Senada dengan hal tersebut, Direktur Perusda Air Minum Danum Taka, Abdul Rasyid, mengatakan optimalisasi embung menjadi langkah krusial untuk menghadapi ancaman penurunan ketersediaan air baku. Terlebih, sejumlah wilayah di PPU saat ini telah mengalami penurunan debit air yang berdampak langsung terhadap pelayanan distribusi.
Ia menyebutkan, Unit Sotek bahkan telah berhenti beroperasi selama lima bulan akibat sumber air yang mengering. Sementara itu, wilayah Babulu mengalami kondisi kritis dan kapasitas produksi Unit Waru mengalami penurunan hingga hampir 50 persen, disusul kondisi serupa di Sungai Lawe-Lawe.
Menurut Abdul Rasyid, berdasarkan prakiraan iklim dari BRIN dan BMKG, PPU masih berpeluang mendulang curah hujan cukup tinggi pada November 2026 hingga Februari 2027. Namun, setelah periode tersebut, daerah diperkirakan kembali menghadapi kemarau panjang mulai Maret 2027 hingga triwulan pertama 2028.
“Karena itu, kesempatan pada musim hujan ini harus benar-benar kita manfaatkan untuk menampung air sebanyak mungkin. Jangan sampai ketika kemarau datang, baru kita mulai melakukan persiapan,” ungkapnya.
Embung yang menjadi fokus penanganan memiliki luas sekitar 17 hektare di atas lahan kurang lebih 200 hektare milik Pertamina yang dipinjam pakaikan. Dengan rencana kedalaman mencapai empat meter, tampungan tersebut diharapkan mampu menjadi cadangan air baku jangka panjang. Proses pengerukan saat ini berjalan dengan dukungan Dinas PUPR serta bantuan dana operasional bahan bakar sebesar Rp350 juta dari Pertamina.
Jika optimalisasi rampung dan didukung kapasitas pompa 100 liter per detik, cadangan air tersebut diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan hingga delapan bulan.
Sementara itu, Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setdakab PPU, Hadi Saputro, menambahkan bahwa pemerintah daerah terus mengkaji sejumlah alternatif teknis, termasuk pengembangan sistem interkoneksi jaringan pipa dan pemanfaatan sumber air lainnya seperti Embung PVC.
Dari legislatif, Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD PPU, Muhammad Bijak Ilhamdani, menyatakan dukungan penuh dan siap mendorong pembahasan anggaran agar program penanganan krisis air bersih dapat terakomodasi secara optimal melalui APBD Murni 2027.
Melalui kolaborasi lintas sektor yang dipimpin langsung oleh kepala daerah ini, Pemkab PPU berharap optimalisasi Embung Lawe-Lawe dapat menjadi solusi jangka menengah yang efektif dalam menjaga ketersediaan air baku serta menjamin kenyamanan masyarakat ketika musim kemarau ekstrem melanda. (Adv)



