Berita TerkiniNusantara

Dosen Institut Parahikmah Indonesia Bahas Beasiswa Fulbright di ETDC Indonesia

ADARA TIMUR – Education and Talent Development Center of Indonesia (ETDC) menggelar kegiatan Sharing Session melalui aplikasi zoom. Kegiatan bertemakan “Sharing dan Tips Beasiswa AAS, Fulbright, dan LPDP” yang agak berbeda dari kegiatan-kegiatan sebelumnya yang diselenggarakan oleh ETDC.

“Kami sebelumnya sudah melakukan berbagai kegiatan, namun kegiatan kali ini agak berbeda karena terkait sosialisasi beasiswa baik luar negeri dan dalam negeri yaitu Beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS), Fulbright, dan LPDP” ungkap Sirajuddin mengawali sambutannya sebagai ketua ETDC.

Salah satu pemateri pada sharing session kali ini adalah Fatmawati Akhmad, S.Pd.,M.A. Pemateri pada kegiatan sharing ini merupakan salah satu dosen di Institute Parahikma Indonesia yang bertempat di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Kemudian berdasarkan data yang kami peroleh, Fatmawati Akhmad ini juga menjabat sebagai sekretaris di Pusat Pengembangan Bahasa Parahikma.

Studi yang ditempuhnya pertama kali di Universitas Negeri Makassar kemudian melanjutkan studi melalui program master Fulbright di Marshall University pada 2018 lalu.

Pemateri memberikan informasi awal terkait beasiswa Fulbriht sebelum mengulas lebih lengkap materinya pada sharing session kali ini. “Beasiswa Fulbright ini diprakarsai oleh Bapak J. William Fulbright, jadi cikal bakalnya program Fulbright ini ke seluruh dunia itu adalah bapak ini” ungkap Fatma sapaan akrab penerima beasiswa Fulbright ini.

Dia melanjutkan dengan menyampaikan bahwa beasiswa Fulbright ini adalah program Kementerian Luar Negeri AS untuk pertukaran Pendidikan internasional yang sudah diadakan lebih dari 70 tahun dengan lebih dari 160 negara. “jadi lulusan Fulbright itu dimana-mana yah di seluruh dunia” jelasnya.

Beasiswa ini tidak hanya diperuntukkan bagi mereka yang berkecimpun di dunia Pendidikan, namun juga bisa didapatkan oleh para peneliti, guru dan professional di segala bidang.
“jadi program ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa, peneliti, dosen, seniman, guru dan professional di segala bidang untuk mendapatkan dan melakukan penelitian atau mendapatkan pelatihan, jadi yang bisa menerima beasiswa tidak hanya yang berkecimpun di dunia pendidikan” terangnya.

Dosen Bahasa inggris ini menambahkan pentingnya jiwa kepemimpinan dan sosial yang harus dimiliki oleh para pelamar beasiswa tersebut dan harus sanggup menyelesaikan pendidikan sesuai deadline yang disepakati.

“Jadi tidak harus sudah jadi ketua dimana, atau sudah mencetus organisasi tetapi di personal statement kita sudah menunjukkan bahwa kita ada bibit-bibit kepemimpinan kita dan kita juga berjiwa sosial, ini salah syarat penting sih menurut saya” jelas mantan guru Bahasa inggris ini.

Kegiatan sharing ini berlangsung melalui aplikasi zoom dan live youtube. Nah, pihak kami menyarankan tonton selengkapnya di chanel youtube ETDC Indonesia.

 

Report: Abdul Kadir

Selengkapnya

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button