Podium

“Virus” Baru Foodless 21, Ancaman Keselamatan Negara

Oleh: Fathorrahman Fadli*

ANDA tahu siapa yang dimaksud warga negara? Warga negara itu adalah Yuli yang kemarin Senin (21/4/2020) meninggal karena sudah dua hari lamanya hanya makan air untuk menutupi rasa lapar. Perutnya pun kembung, masuk angin, stress lalu meninggal dunia. Malang nian nasibmu Yuli.

YULI adalah warga Kelurahan Lontar Baru, Kecamatan Serang, Kota Serang. Ia dan keluarganya hanya minum air galon untuk membuat rasa kenyang di perut mereka selama dua hari. 

Informasi yang dilaporkan media massa diperoleh kabar, mereka tidak ada pekerjaan dan pendapatan. Akhirnya, mereka tak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jangankan lauk-pauk sekedar beras segenggam pun mereka tak punya. Duh, Gusti.

Keluarga yang hanya berprofesi sebagai buruh serabutan itu mendadak Foodless. Sebab bantuan makanan yang dijanjikan pemerintah itu hanya mimpi di siang bolong bagi keluarga itu. Bukannya tidak pernah sampai sama sekali, namun tidaklah cukup untuk terus bertahan hidup. Namun apapun yang terjadi, Yuli yang malang itu menjadi penting bagi tegaknya suatu negara.

Sebab dari literatur babon Ilmu Negara, orang seperti Yuli itu adalah Prasyarat Utama berdirinya sebuah negara. Tanpa Yuli negara tidak akan pernah ada. Oleh karena itu eksistensi Yuli dalam perspektif tata negara itu sangatlah vital. Tak bisa diremehkan. Justru pekerjaan utama suatu negara adalah menjaga Yuli agar tidak Foodless seperti itu. Dan, jika itu terjadi, sesungguhnya pemerintah negeri ini telah lalai dari tugas utamanya.

Dimasa pandemik seperti ini, ratusan juta Yuli itu juga sedang berharap-harap cemas. Bagaimana mengisi hari-harinya yang kosong. Pekerjaan tidak ada, duit pun tak punya. Satu satunya harapan itu datang dari janji-janji lambat pemerintah, atau budi baik para dermawan. Untuk itu mereka harus ekstra sabar.

Jadi, Yuli meninggal bukan karena korban Covid 19, namun akibat FoodLess 21. Foodless 21 itu kini mencuat sebagai wabah baru yang lebih mengerikan daripada Covid 19. Jika hal ini semakin masif, maka negeri ini akan segera memanen mayat yang masif juga diseluruh pelosok negeri.

Poverty

Melihat Yuli mengingatkan saya pada acara “BBC Debate Poverty” yang dihadiri Mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair dan Vandana Siva; seorang aktivis lingkungan asal India yang sangat getol. Perdebatan itu berlangsung sangat seru soal bagaimana mengatasi kemiskinan yang masih menganga dibeberapa belahan dunia.

Vandana Siva, perempuan aktivis berwajah cantik dan bertubuh tambun itu dengan keras menyerang Tony Blair tanpa basa-basi. Diva menilai, kemiskinan didunia itu terjadi karena kerakusan dari negara-negara besar dan Adikuasa.

Mereka, lanjut Diva, telah menyebabkan kemiskinan karena struktur hegemoni dunia yang rakus nan ambisius. Tapi Tony selalu mengelak dengan dalil-dalil yang jamak dilontarkan oleh kaum liberal bahwa itu adalah risiko logis dari rendahnya sumber daya manusianya.

Mari kita sudahi perdebatan Siva dan Tony, lalu kembali pada kasus Yuli yang mati mengewaskan karena kelaparan itu.

Kasus Yuli di Tangerang itu mungkin bukan kasus pertama selama pandemi Covid 19 ini. Ia hanyalah gunung es yang mencair dan berhasil disiarkan oleh media massa. Ribuan kasus serupa sangat bisa jadi muncul dimasa-masa yang akan datang. Sebab dalam kondisi normal saja kemampuan pemerintah untuk mengurus rakyatnya sudah tidak mampu, apalagi zaman pagebluk seperti saat ini.

Dibutuhkan terobosan yang jitu dalam manajemen distribusi bantuan makanan kepada masyarakat luas. Tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada ketua RT dan RW begitu rupa karena potensi penyalahgunaan sangatlah besar. Beberapa kasus di lapangan menunjukkan ada diskriminasi dalam pembagian sembako. Untuk itu harus diperbaiki.

Distribusi melalui masjid mungkin juga bisa jadi pola. Sebab masjid adalah organisasi atau institusi yang paling eksis dalam masyarakat muslim. Mereka akan lebih paham kualitas ekonomi masyarakat sekitarnya. Mereka akan lebih paham kepada siapa bantuan membanjiri diberikan.

MENGAPA? Karena mereka merupakan sekumpulan orang-orang yang relatif memiliki tingkat kesalehan tersendiri. Kepada merekalah layak kita berikan amanatnya hingga sampai pada yang berhak. Jangan sampai kejadian seperti Yuli itu meningkat kasusnya dari hari ke hari.

Jika hal itu terjadi maka kehadiran negara adalah sama dengan ketiadaan negara. Dalam bahasa pakar fiqih, Prof. KH. M. Ali Yafie, “wujuduhu kaadamihi ” adanya sama dengan tidak adanya. Jadi kita sebagai rakyat telah percuma membuang-buang uang untuk membiayai pemerintah yang tidak cakap dan tidak perduli dengan yang membayar mereka.

Kasus Yuli harus menjadi pelajaran penting bagi para pemimpin di negeri ini, perut rakyat adalah yang utama. Memenuhi perut rakyat adalah tugas utama pemimpin, jika urus itu saja gagal, maka pasti gagal dalam soal yang lain. Ingatlah itu wahai para pemimpin!!!!

*Penulis adalah Direktur Eksekutif Indonesia Development Research/IDR dan Dosen pada Fakultas Ekonomi Universitas Pamulang

Selengkapnya

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button