Wakili Kabupaten, BPBD PPU Unjuk Gigi di Ajang PEPES IKAN PEDA Kaltim Lewat Inovasi ‘Perisai Sidik 112’

ADARA TIMUR – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), dengan didampingi oleh Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan (Bapelitbang) PPU, resmi mewakili Kabupaten PPU dalam ajang Lomba Penjaringan Peserta Inovasi Kreativitas Pelayanan Perangkat Daerah (PEPES IKAN PEDA) Provinsi dan Kabupaten/Kota di Kalimantan Timur.
Dalam kompetisi tingkat provinsi ini, BPBD PPU menjagokan Inovasi Perisai Sidik 112, sebuah sistem pelayanan publik digital kedaruratan yang dirancang untuk mempercepat respons penanganan bencana dan kedaruratan di wilayah PPU. Inovasi ini sejatinya telah diimplementasikan secara berkelanjutan sejak tahun 2023 dan terus mengalami pemutakhiran guna memberikan proteksi maksimal bagi masyarakat.
Ajang PEPES IKAN PEDA sendiri merupakan ruang kompetisi yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur guna menjaring kreativitas terbaik dalam pelayanan publik di lingkungan perangkat daerah. Kehadiran Bapelitbang PPU dalam mendampingi BPBD mempertegas komitmen kedeputian perencanaan daerah dalam mendukung ekosistem kota cerdas (smart city) serta integrasi layanan digital yang berdampak langsung pada masyarakat luas.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten PPU, Nurlaila, menyampaikan rasa optimistisnya dalam pemaparan di hadapan tim penilai. Menurutnya, inovasi ini bukan sekadar alat untuk memenangkan lomba, melainkan wujud nyata transformasi pelayanan publik yang bertumpu pada kecepatan dan keakuratan data.
“Inovasi Perisai Sidik 112 ini adalah jawaban BPBD PPU terhadap tantangan zaman, di mana pelayanan kebencanaan harus bergerak lebih cepat, taktis, dan terintegrasi secara digital. Kondisi geografi PPU memerlukan pemantauan intensif, terlebih dengan adanya dinamika pembangunan yang pesat di wilayah tersebut,” ujarnya
Lebih lanjut, Nurlaila juga membeberkan bahwa program yang berjalan sejak tahun 2023 ini telah memotong birokrasi pelaporan darurat secara signifikan. Sejak diluncurkan pada tahun 2023, Perisai Sidik 112 telah berhasil mengintegrasikan berbagai pusat panggilan darurat, sehingga koordinasi di lapangan saat terjadi bencana hidrometeorologi, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga aksi penyelamatan warga dapat dieksekusi dalam hitungan menit.
“Melalui ajang PEPES IKAN PEDA ini, ia berharap inovasi dari PPU dapat mendapat masukan berharga dari para penguji tingkat provinsi untuk pengembangan ke depan, sekaligus membawa nama harum daerah di level Kalimantan Timur,” tambah Nurlaila.
Tidak hanya itu, pendampingan oleh Bapelitbang PPU memastikan bahwa inovasi ini selaras dengan arah pembangunan jangka panjang daerah. Respons cepat yang difasilitasi oleh aplikasi digital ini terbukti membantu Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD dalam menangani berbagai kejadian darurat di lapangan, mulai dari evakuasi, suplai bantuan logistik, hingga penanganan titik api.
“Melalui keikutsertaan ini, Pemerintah Kabupaten PPU menegaskan posisinya sebagai daerah yang adaptif terhadap teknologi informasi demi menghadirkan rasa aman dan pelayanan prima bagi seluruh lapisan masyarakat,” pungkas Nurlaila. (Adv)



